Selasa, 05 Agustus 2014

review The Fault In Our Stars (John Green)


Baru selesai melahap novel ini beberapa hari yang lalu. Gak sengaja beli novel ini sebenernya. Waktu itu aku lagi nyari novel Never Let Me Go karya Kazuo Ishiguro, cuman gak ada. Setelah sejam keliling Gramed, akhirnya saya bimbang, mau beli novel Insurgent karya Veronica Roth (sekuel Divergent) atau novel ini? Dan akhirnya pilihanku jatuh ke The Fault In Our Stars (TFIOS) karya John Green, penulis bestseller dunia.

Sebelumnya aku sempet liat di google kalau ceritanya tentang kanker. Terus aku berpikir, akankah ceritanya miirip cerita Keke di Surat Kecil Untuk Tuhan (SKUT)? atau kaya film Pupus?

Adegan dibuka dengan narasi Hazel Grace (protgonis) yang ngerasa sebel dan jengkel sama kanker tiroid yang dideritanya. Ini sebel lho ya, bukannya sedih dan pasrah. Jadi, si Hazel ini tuh penderita kanker tiroid dan udah menjalar ke paru-parunya. Oleh sebab itu, dia harus pake kanula (selang yang dipasang di hidung) yang dihubungkan dengan tangki oksigen portable yang bisa didorong kemana-mana buat bantuan pernapasan.

Awalnya si Hazel ini anak rumahan, gak mau kemana-mana. Tapi kemudian ibunya menyuruh Hazel buat ngikutin semacam seminar kanker gitu yang isinya penderita kanker dan mantan penderita kanker. Seminar itu dipimpin oleh mantan penderita kanker yang menyerang buah pelirnya.
Suatu hari, Hazel ketemu sama mantan penderita kanker yang kehilangan kakinya. Jadi dia pake kaki palsu. Namanya Augustus Waters.
Dari situ, Hazel mulai dekat sama Augustus. Hazel ngerekomendasiin novel favoritnya ke Augusus, judunya Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten.
Gak seperti novel kebanyakan, Kemalangan Luar Biasa ini berakhir di tengah-tengah kalimat. Dan itu bikin Hazel dan Augustus (Gus) penasaran. Akhirny Gus mengajak Hazel dan ibunya ke Amsterdam untuk menemui Peter Van Houten. Tapi ternyata Van Houten sudah jadi pemabuk yang menyedihkan. Dia malah mengatai Hazel dan penyakit yang dideritanya. Hazel marah dan sangat kecewa kepada Van Houten.
Sepulang dari Amsterdam, Gus mengaku pada Hazel kalau dia kena kanker lagi. Kankernya menyebar di selururh tubunya seperti lampu pohon natal. Hazel akhirnya berusaha menghibur Gus. Tapi hari demi hari, kondisi Gus memburuk. Hingga suatu hari, Gus meninggal. Hazel benar-benar terpukul atas kematian Gus.
Cerita diakhir ketika Hazel membaca surat terakhir Gus kepada Van Houten yang berisi curhatan Gus tentang Hazel.

Ending buku ini menggantung. Dan (sepertinya) tidak ada sekuelnya. Aku jadi kepikiran kaya Hazel. Pengen nemuin John Green dan minta kelanjutan ceritanya. Tapi untuk keseluruhan buku ini adalah bacaan wajib. Aku kasih poin 8/10 untuk buku ini.